Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya
 

Guru yang Tulus Sulit Ditemukan, Bagian 2 dari 5

Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Segala sesuatu adalah Buddha. Buddha ada di mana-mana. Tuhan ada di mana-mana. Segala sesuatu adalah Tuhan. Jika ini benar, mengapa kita harus menjaga sila? Mengapa kita harus melakukan perbuatan baik? Mengapa kita harus menghindari perbuatan kotor dan jahat? Jika orang-orang jahat juga memiliki Hakikat Buddha, Tuhan, dan diciptakan oleh Tuhan, lalu mengapa kita harus bermeditasi? Mengapa kalian harus melakukan perbuatan baik dan menjaga sila?

Saya akan beri tahu kalian. Itu karena, dari kehidupan ke kehidupan, kita sudah mempelajari hal-hal buruk itu. Misalnya, Tuhan itu seperti ini: Di tingkat terendah, itu Dia; di tengah, itu Dia; dan di tingkat tertinggi, itu juga Dia.

Di mana kita sekarang? Kita berada di tempat terendah, atau setidaknya di tengah. Maksimal kita berada di tengah. Kita belum mengenali tempat yang lebih tinggi. Sekarang, jika kita terus melakukan pekerjaan buruk itu, atau melakukan perbuatan jahat alih-alih menjaga sila, tanpa pemahaman yang jelas, maka kita hanya mengenali aspek terendah dari-Nya.

Kita tidak akan pernah bisa naik dan mengenali bagian tertinggi dari-Nya. Jadi, kini, setelah belajar aspek-aspek terendah, kita meninggalkannya. Dari kehidupan ke kehidupan, kita telah belajar terlalu banyak, cukup bagi kita. Sekarang kita ingin naik. Atau, mengingat kita berada di bagian tengah dan sekarang jauh lebih bersih, kita masih harus mendaki ke atas.

Kita ingin tahu: Surga, Bumi, bagian atas, bagian tengah, dan bagian bawah. Hanya dengan begitu kita akan mengenal Tuhan sepenuhnya. Mengerti atau tidak? (Mengerti.) Baru setelah itu kita akan menjadi Tuhan. Begitulah adanya. Baru setelah itu kita akan melihat bahwa itu sebenarnya tidak terlalu kotor, tidak sepenuhnya baik, dan tidak sepenuhnya buruk. Semua adalah Tuhan, semua adalah pengaturan Sang Pencipta. Tapi sebelum kita mengenal yang tertinggi, kita tidak bisa berpikir seperti itu. Bagi kita, baik itu baik, dan buruk itu buruk. Lalu kita bingung: “Hah? Guru berkata bahwa Tuhan ada di mana-mana dan segalanya adalah Tao. Lalu mengapa Dia masih meminta saya untuk berlatih dengan ketat dan menjaga sila? Bukankah mereka yang melakukan hal-hal buruk di luar sana juga Tuhan?” Ya, ya. Tapi dia adalah Tuhan di sudut lain. Dia masih tenggelam di tempat gelap. Dia belum sepenuhnya menyadarinya.

Misalnya, kita tinggal di sebuah… Kita membangun rumah yang sangat besar, di dalamnya ada ruang tamu, kamar tidur, toilet, dapur. Apakah kalian tinggal di toilet sepanjang hari? Kalau begitu kalian sudah gila. Karena… itu… Baiklah. Baiklah. Tepuk tangan. Tentu saja, kita tidak bisa bilang bahwa toilet bukan milik kita. Itu juga dibangun oleh kita, di mana kita juga menginvestasikan uang dan tenaga. Kita juga berupaya keras untuk membangunnya dengan baik. Tapi itu hanya toilet. Kita tak bisa tinggal di dalamnya sepanjang hari. Benar? (Benar.)

Itu juga sama. Ketika kita melihat seorang Guru yang tercerahkan, itu serupa. Kita melihat seluruh aspeknya! Bukan hanya yang disebut sudut yang buruk. Misalnya, bisakah kita membangun istana yang indah tanpa toilet? Tidak. Itu sangat penting, itu sangat penting. Dan tempat untuk membuang sampah juga penting. Kita tidak bisa memiliki istana tanpa toilet, tanpa toilet, dan tanpa tempat untuk membuang sampah. Mereka diperlukan! Istana terbesar adalah istana kerajaan. Yang paling penting adalah… misalnya, ada juga tempat-tempat seperti itu di istana presiden.

Demikian pula, jika seorang Guru yang tercerahkan tinggal di tempat yang lebih tinggi, Dia tidak butuh hal-hal tersebut. Tapi ketika Dia berada di sini, Dia masih membutuhkan tempat untuk membuang sampah. Tempat yang disebut “tempat buruk” itu adalah untuk membuang sampah. Kalau tidak, di mana Dia membuang sampah kita? Biarkan di sana sementara. Dia akan membakarnya nanti saat Dia punya waktu. Mengerti maksud saya? (Mengerti.) Oleh karena itu, tidak perlu melihat seberapa panjang atau pendek rambut-Nya, atau jenis pakaian yang dikenakan-Nya. Hal-hal itu tidak relevan. Dia melakukan banyak hal lain selain itu. […]

Photo Caption: TUHAN Sangat Murah Hati di Alam Liar! Bahkan Lebih Melimpah Lagi di Alam! (semua makanan tanpa rasa sakit)

Unduh Foto   

Tonton Lebih Banyak
Semua bagian (2/5)
1
Antara Guru dan Murid
2026-01-18
3050 Tampilan
2
Antara Guru dan Murid
2026-01-19
2546 Tampilan
3
Antara Guru dan Murid
2026-01-20
2479 Tampilan
4
Antara Guru dan Murid
2026-01-21
2353 Tampilan
5
Antara Guru dan Murid
2026-01-22
2088 Tampilan
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Serial Multi-Bagian Prediksi Kuno tentang Planet Kita
2026-02-08
292 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-02-08
412 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-02-07
851 Tampilan
40:42
Berita Patut Disimak
2026-02-06
201 Tampilan
Berita Patut Disimak
2026-02-06
635 Tampilan
Dunia Sekitar Kita
2026-02-06
198 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh