Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya

Yang Disembah Bodhisattva Quan Yin (vegan): Kutipan dari Surangama dan Sutra Hati, Bagian 2 dari 2

2026-04-07
Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Mari kita lanjutkan dengan kutipan dari Sutra Pragñâpâramitâ Hridaya, juga dikenal sebagai Sutra Hati, dari buku “Buddhist Mahâyâna Texts,” yg diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh EB Cowell, F. Max Müller, dan J. Takakusu.

Sutra Prajnaparamita Hridaya Yang Lebih Besar

“Pemujaan kepada Maha Tahu!” Inilah yang kudengar: Dahulu kala, Sang Bhagava (Sang Buddha) pernah menetap di Râgagriha, di bukit Gridhrakûta, bersama dengan sejumlah besar Bhiksu dan sejumlah besar Bodhisattva. Pada saat itu, Sang Bhagava [Sang Buddha] sedang khusuk dalam meditasi; yang disebut Gambhîrâvasambodha. Dan pada saat yang sama, Bodhisattva Agung Âvalokitesvara, yang sedang mempelajari Pragñâpâramitâ [Kesempurnaan Kebijaksanaan] yang mendalam, berpikir demikian: 'Ada lima Skandha [Agregat], dan itu semua dianggap oleh Beliau (Sang Buddha) sebagai sesuatu yang pada hakikatnya kosong.' Kemudian Yang Mulia Sâriputra, melalui kekuatan Buddha, berkata demikian kepada Bodhisattva Âvalokitesvara: 'Jika putra atau putri suatu keluarga ingin mempelajari Pragñâpâramitâ [Kesempurnaan Kebijaksanaan] yang mendalam, bagaimana ia harus diajarkan?' Mengenai hal ini, Bodhisattva agung Âvalokitesvara berkata kepada Yang Mulia Sâriputra:

'Jika putra atau putri suatu keluarga ingin mempelajari Pragñâpâramitâ secara mendalam [Kesempurnaan Kebijaksanaan], ia harus berpikir demikian: Ada lima Skanda [Agregat] Dia menganggap bahwa semua ini pada hakikatnya kosong. Bentuk adalah kekosongan, dan kekosongan sesungguhnya adl bentuk. Kekosongan tidak berbeda dari bentuk; bentuk tidak berbeda dari kekosongan. Apa yang bentuk adalah kosong, apa yang kosong adalah berbentuk? Dengan demikian, persepsi, nama, konsepsi, dan pengetahuan juga merupakan kekosongan. Demikian, wahai Sâriputra, segala sesuatu memiliki sifat kekosongan, mereka tak ada awal, taka da akhir; mereka tanpa cela dan tidak tanpa cela; mereka tidak sempurna dan tidak sempurna. Oleh karena itu, wahai Sâriputra, di dalam kekosongan ini tidak ada bentuk, tidak ada persepsi, tidak ada nama, tidak ada konsep, tidak ada pengetahuan. Tidak ada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Tidak ada bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, atau benda. Tak ada mata, dsb, hingga kita tiba pada kesimpulan tak ada pikiran, tak ada objek, tak ada pengetahuan pikiran. Tidak ada pengetahuan, tidak ada ketidaktahuan, tidak ada penghancuran (ketidaktahuan), hingga kita sampai pada tidak ada pembusukan dan kematian, tidak ada penghancuran pembusukan dan kematian; tidak ada (Empat Kebenaran, yaitu) bahwa ada rasa sakit, asal mula rasa sakit, penghentian rasa sakit, dan jalan menujunya. Tak ada ilmu, tidak ada pencapaian, dan tak ada ketidakmampuan untuk mencapai Nirwana. Oleh karena itu, wahai Sâriputra, karena tidak ada cara untuk memperoleh (Nirvâna), seorang manusia yang telah mendekati Pragñâpâramitâ [Kesempurnaan Kebijaksanaan] para Bodhisattva, akan tinggal (untuk sementara) terselubung dalam kesadaran. Namun, ketika selubung kesadaran telah dilenyap, maka ia menjadi bebas dari segala ketakutan, di luar jangkauan perubahan, menikmati Nirwana terakhir. Semua Buddha di masa lalu, sekarang, dan masa depan, setelah mendekati Pragñâpâramitâ [Kesempurnaan Kebijaksanaan], telah mencapai pengetahuan sempurna tertinggi. Oleh karena itu, kita harus mengetahui ayat agung dari Pragñâpâramitâ [Kesempurnaan Kebijaksanaan], ayat kebijaksanaan agung, ayat yang tak tertandingi, ayat yang meredakan semua penderitaan – itu adalah kebenaran, itu bukan palsu – ayat yang dinyatakan di dalam Pragñâpâramitâ [Kesempurnaan Kebijaksanaan]: “Wahai kebijaksanaan, pergi, pergi, pergi ke pantai seberang, mendarat di pantai seberang, Svâhâ!” Maka, wahai Sâriputra, hendaklah seorang Bodhisattva mengajarkan tentang studi Pragñâpâramitâ [Kesempurnaan Kebijaksanaan] yang mendalam.' Kemudian, ketika Sang Bhagava [Sang Buddha] telah bangkit dari meditasi itu, Beliau memberikan persetujuan-Nya kepada Yang Mulia Bodhisattva Avalokitesvara, seraya berkata: 'Bagus sekali, bagus sekali, putri yang mulia! Begitulah adanya, putri yang mulia. Maka sesungguhnya, studi mendalam tentang Pragñâpâramitâ [Kesempurnaan Kebijaksanaan] ini harus dilakukan. Sebagaimana yang telah Engkau jelaskan, hal itu dipuji oleh para Arahat Tathagata.' Demikianlah diucapkan Bhagava [Sang Buddha] dng pikiran gembira. Dan Yang Mulia Sâriputra, dan Yang terhormat Bodhisattva avalokitresvara, dan seluruh majelis, dan alam para dewa, manusia, para iblis, dan para peri memuji ucapan Sang Bhagava [Sang Buddha]. Di sinilah berakhir Pragñâpâramitâhridayasûtra.”
Tonton Lebih Banyak
Semua bagian (2/2)
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Ringkas
2026-04-08
122 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-04-08
615 Tampilan
33:52
Berita Patut Disimak
2026-04-07
128 Tampilan
Jejak Budaya Di Seluruh Dunia
2026-04-07
113 Tampilan
Veganisme: Cara Hidup Mulia
2026-04-07
124 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-04-07
993 Tampilan
38:11
Berita Patut Disimak
2026-04-06
388 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh