Konsumsi Daging dan Risiko Kanker  
email to friend  E-mail this to a Friend    Print
Source: PLoS.org

Konsumsi Daging dan Risiko Kanker

Jeanine M. Genkinger, Anita Koushik*

Funding: T

Biaya: Pengarang tidak menerima biaya apapun untuk artikel ini.

Keinginan Kompetisi: Pengarang menyatakan bahwa tidak ada kepentingan untuk bersaing.

Kutipan: Genkinger JM, Koushik A (2007) Meat Consumption and Cancer Risk. PLoS Med 4(12): e345 doi:10.1371/journal.pmed.0040345

Diterbitkan: 11 Desember 2007

Hak Cipta: © 2007 Genkinger and Koushik. Ini adalah sebuah artikel yang dapat diperoleh secara terbuka yang didistribusikan dengan syarat-syarat dari Creative Commons Attribution License, yang memperbolehkan pemakaian tanpa batas, distribusi, dan reproduksi dalam bentuk apapun apabila pengarang dan sumber asalnya disebutkan.

Singkatan: AARP, dulunya dikenal sebagai American Association of Retired Persons; FFG, food frequency questionnaire; NIH, National Institutes of Health

Jeanine M. Genkinger bekerja di Departemen Onkologi, Divisi Kanker Genetis dan Epidemiologi, Pusat Kanker Komprehensif Lombardi, Universitas Georgetown, Washington, DC, Amerika Serikat. Anita Koushik bekerja di Depertemen de médecine sociale et préventive, Université de Montréal, dan Axe Santé des populations, Centre de recherche du CHUM, Montreal, Quebec, Kanada.

*Untuk berkorespondensi dapat kirim E-mail ke: anita.koushik@umontreal.ca

Pengarang-pengarang ini berkontribusi rata terhadap karya ini.

Cukup besarnya angka variasi dari tingkat penyebab kanker menurut kajian para pekerja migran menyimpulkan bahwa faktor lingkungan seperti cara makan berkaitan dengan risiko kanker. Konsumsi daging, seperti sapi, mempunyai 3 jenis variasi di seluruh dunia – dengan angka konsumsi yang tertinggi di negara maju (23 kg/penduduk) dibandingkan dengan negara yang kurang berkembang (6 kg/penduduk) [1] Berdasarkan karya Richard Doll dan Richard Peto pada tahun 1981 diperkirakan bahwa sekitar 35% (sekitar 10% - 70%) penyakit kanker dapat dikaitkan dengan cara makan, sama besarnya dengan akibat rokok terhadap kanker (30%, berkisar 25% - 40%) [2].

Konsumsi daging berkaitan dengan risiko kanker dan hal ini telah dilaporkan oleh lebih dari seratus kajian epidemiologikal di berbagai negara dengan cara makan yang bervariasi. Keterkaitan antara konsumsi daging dan risiko kanker telah dikaji dengan melihat kedua-duanya, yaitu kelompok luas yang mengonsumsi daging, dan juga kategori yang lebih baik, khususnya konsumsi daging merah, termasuk sapi, domba, babi, dan daging anak lembu, serta khususnya daging proses atau daging yang diawetkan melalui penggaraman, pengasapan, atau pengawetan.

Meskipun hubungan kanker dengan konsumsi daging dapat saja dijelaskan karena pola makan yang berenergi atau berkandungan lemak tinggi (“kebaratan”), hal itu juga mempunyai pengaruh langsung dari unsur karsinogenik yang ditemukan dalam daging, termasuk unsur N-nitroso, heterosiklik amino, atau polisiklik aromatik hidrokarbon. Unsur N-nitroso mempunyai peranan yang besar dalam pembentukan karsinogen dalam daging  [3] termasuk nitrosamino yang memerlukan aktivasi metabolis untuk dikonversi menjadi bentuk karsinogenik dan nitrosamida yang tidak membutuhkan aktivasi. Sama halnya, heterosiklik amino diklasifikasikan sebagai mutagen dan karsinogen hewan [4–8]. Unsur-unsur ini dan yang lainnya di dalam daging (garam, nitrat, nitrit, zat besi, lemak jenuh, estradiol) telah didefinisikan sebagai peningkat sintetis DNA dan perkembangbiakan sel, meningkatkan insulin - seperti faktor-faktor pertumbuhan, mempengaruhi metabolisme hormon, mempengaruhi kerusakan radikal bebas, dan meningkatkan kasinogenik heterosiklik amino [9–16], yang semuanya itu mempengaruhi pertumbuhan kanker.

Artikel Penelitian yang Terkait:

Artikel Penelitian Terjemahan yang membahas kasus baru berikut ini dipublikasikan di PloS Medicine:

Cross AJ, Leitzmann MF, Gail MH, Hollenbeck AR, Schatzkin A, et al. (2007) Suatu studi propektif atas konsumsi daging merah dan daging proses berkaitan dengan risiko kanker. PLoS Med 4(12): e325. doi:10.1371/journal.pmed.0040325

Dengan menggunakan data dari Amanda Cross dan koleganya, sebuah studi kelompok besar telah menemukan bahwa baik konsumsi daging merah dan daging proses berkaitan erat dengan kanker usus besar (colorectum) dan paru-paru.

Kanker Usus Besar

Studi paling menghebohkan yang berkaitan dengan konsumsi daging adalah kanker usus besar. Dalam studi ekologikal, hubungan antara konsumsi daging per kapita secara internasional dengan tingkat kanker usus (r > 0.85) dan tingkat kematian (r > 0.70) cukup tinggi. Sama halnya, meningkatnya risiko kanker usus besar berkaitan dengan konsumsi daging merah dan daging proses telah diteliti dalam studi kelompok dan pengendalian kasus. Sebuah kajian tahun 1997 yang berkaitan dengan hal ini yang disponsori oleh Dana Penelitian Kanker Dunia dan Institut Penelitian Kanker Amerika menyimpulkan bahwa konsumsi daging merah kemungkinan meningkatkan risiko kanker usus besar, sedangkan daging proses mungkin meningkatkan risiko kanker usus besar [19]. Konsensus yang sama juga dilaporkan oleh Panel Kanker Usus dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[20] dan Kelompok Kerja Diet dan Kanker pada Komite Obat dari Kebijakan Nutrisi dan Makanan  [21].  Dalam meta-analisa kanker usus besar baru-baru ini, termasuk studi yang dipublikasikan hingga tahun 2005 [22–24],  ringkasan terkait menyimpulkan bahwa konsumsi daging merah meningkatkan risiko 28%–35%, sedangkan daging yand diproses meningkatkan risiko dari 20%–49%.

Kanker Jenis Lain

Sebagai tambahan, sejumlah besar studi telah menguji keterkaitan antara konsumsi daging dan risiko kanker perut. Dalam sebuah meta-analisa baru-baru ini, meskipun hasilnya berasal dari kasus pengendalian berbanding kasus kelompok yang cukup beragam [25]. Sedikit studi yang kurang konsisten telah dilaporkan terhadap kanker kandung kemih [26,27], kanker payudara [28,29], endometrium [30], glioma [31], pankreas [32–34], prostat [35], dan sel ginjal [36]. Hanya ada sedikit kajian yang berkaitan antara konsumsi daging dengan kanker paru-paru [37,38], kerongkongan [39], rongga mulut [40,41], peranakan [42–44], mulut kelamin [45], dan hati [41]. Kebanyakan studi yang ada menguji tempat-tempat tersebut secara kasus per kasus, dan beberapa studi terdahulu kurang ada penyesuaian terhadap konsumsi energi atau indeks masa tubuh, dua kunci utama penentu.

Sebuah Studi Baru tentang Berbagai Tempat Kanker

Dalam penerbitan PLoS Medicine, Amanda Cross dan rekan-rekannya mengemukakan penemuan mereka dari sebuah kajian kelompok yang berprospektif besar terhadap konsumsi daging merah dan daging proses di berbagai tempat [46]. Analisa mereka berdasarkan propektif Institut Kesehatan Nasional (NIH)-AARP (yang sebelumnya dikenal sebagai Pensiunan Asosiasi Amerika) Studi Diet dan Kesehatan yang mencakup hampir 500.000 laki-laki dan wanita di Amerika Serikat yang diantaranya ada lebih dari 53.000 kasus kanker.

Untuk kanker usus besar, risiko kenaikan 24% berkaitan dengan konsumsi daging merah sebanyak 62,5 g/1.000 kcal dan risiko kenaikan 20% berkaitan dengan konsumsi daging proses sebanyak 22,6 g/1.000 kcal ditemukan di antara laki-laki dan wanita yang relatif sama dengan ringkasan risiko relatif pengamatan dalam meta-analisa sebelumnya [22–24].  Para peneliti juga menemukan kenaikan konsumsi daging merah yang sangat berpengaruh dengan naiknya risiko peningkatan 20% - 60% untuk kanker kerongkongan, hati, dan paru-paru. Untuk daging proses, terjadi risiko kenaikan 16% kanker paru-paru yang diamati. Daging merah dan daging proses berkaitan dengan naiknya risiko kanker pankreas pada laki-laki saja.

Hasil penemuan dari  Peneltian Diet dan Kesehatan NIH-AARP menegaskan penemuan-penemuan sebelumnya dari kanker usus besar. Namun demikian, sebuah persamaan positif dengan kanker perut banyak terlihat dalam pengawasan kasus per kasus yang dilakukan terdahulu yang tidak ditemukan dalam  Peneltian Diet dan Kesehatan NIH-AARP. Risiko relatif untuk kanker perut secara primer dinyatakan nihil dalam studi bersama yang dilakukan terdahulu dibandingkan dengan studi kasus per kasus, dan dengan demikian hasil kajian Peneltian Diet dan Kesehatan NIH-AARP tentang kanker perut konsisten dengan studi bersama yang dilakukan bersama sebelumnya.

Lima Makalah Kunci dalam Pembahasan

Larsson dkk, 2006 [22] Suatu meta-analisis mengenai penelitian epidemiologis daging dan kanker kolorektum yang menggunakan suatu teknik peramalan hasilnya kurang tepat untuk diteliti kembali dan pemilihannya cenderung menyimpang.

Larsson dkk., 2006 [25] Suatu pengamatan kualitatif dan kuantitatif langsung mengenai kajian kontrol kasus dan kajian kohort pada kanker perut dengan perhatian pada konsumsi daging yang diproses mungkin mengandung zat yang bersifat karsinogen yang lebih tinggi dibandingkan jenis daging lainnya.

Missmer dkk., 2002 [28] Dalam penelitian ini, konsumsi daging dan risiko kanker payudara diperiksa dengan mengumpulkan data dari delapan kajian kohort prospektif, penelitian itu mengijinkan analisa berbagai perhatian dan sub kelompok populasi. Sekumpulan analisa kurang tepat untuk diterbitkan yang menyimpang dibandingkan meta-analisis dari literatur yang diterbitkan.

Sinha R (2002) Suatu pendekatan epidemologis yang meneliti heterosiklik amina.  Mutat Res 506–507: 197–204. Artikel ini menjelaskan perkembangan dari sebuah kumpulan data untuk memperkirakan konsumsi heterosiklik amino, sebuah kontributor potensial penting tentang hubungan antara daging dan risiko terkena kanker dari data kuesioner frekuensi makanan.

Sinha R, Norat T (2002) Memasak daging dan risiko terkena kanker. Publikasi Ilmiah IARC 156: 181–186. Suatu pengamatan umum mengenai hubungan antara daging dan risiko kanker, dengan pengamatan khusus pada teknik memasak.

Dalam penelitian Palang Merah dan rekan-rekannya, konsumsi daging yang lebih tinggi dihubungkan secara positif dengan risiko terkena kanker paru-paru, hati, tenggorokan, dan pankreas, mirip dengan penemuan dari beberapa  [32,37–40,47–52] tetapi tidak semua  [33,41,53–58], kajian kontrol kasus dan kohort sebelumnya. Suatu hubungan terbalik dengan kanker endometriosis telah diamati di Penelitian Makanan dan Kesehatan NIH-AARP yang sangat berbeda dengan laporan yayasan positif dalam meta-analisa terbaru oleh Elisa Bandera dkk. [30]. Meta analisis ini didasarkan pada 16 kajian kontrol kasus, diantara yang dapat diteliti kembali dan seleksi tidak bisa diatur.

Kelebihan dan Kekurangan dari Penelitan yang Baru

Pengamatan NIH-AARP didasarkan pada prospektif informasi berkualitas tinggi makanan yang diperoleh dengan menggunakan angket frekuensi makanan yang valid (FFQ) dengan 124 pertanyaan [59]. Analisis ini diadakan hanya berdasarkan data FFQ yang mencakup konsumsi terbaru; maka dari itu, perubahan dalam konsumsi daging dan nutrisi lainnya setiap saat, seperti pola konsumsi seumur hidup, tidak dapat dievaluasi dalam penelitian NIH-AARP. Tambahan lagi, karena penelitian NIH-AARP mengukur konsumsi daging merah dan daging yang diproses dari orang dewasa, hal ini mungkin tidak mencakup waktu yang relevan untuk menerangkan zat karsinogen, yang mungkin terjadi sejak masa anak-anak, masa dewasa akhir, atau masa dewasa awal.

Meskipun begitu, dalam kajian ini makanan merupakan ukuran utama dari diagnosis kanker; namun, suatu diagnosis kanker sebaiknya tidak mempengaruhi laporan konsumsi daging, mengurangi potensi penyimpangan saat pengujian kembali. Tambahan lagi, potensi terjadinya penyimpangan dalam pemilihan diperkecil sebagaimana tingkat tindakan kohort lanjutan sangat tinggi (lebih dari 95%). Lebih lanjut, penyelidikan NIH-AARP didasarkan pada ukuran peramalan berkualitas tinggi mengenai faktor lingkungan penting lainnya (misal: merokok, indek massa tubuh), waktu pengamatan yang lama (8,2 tahun), dan besarnya jumlah kasus kanker. Karena besarnya populasi, Penelitian Makanan dan Kesehatan NIH-AARP mampu menganalisa beberapa tempat terjadinya kanker secara meyakinkan, termasuk otak, tenggorokan, limfoma nonHodgkin, tukak lambung, kelenjar ginjal, dan kelenjar gondok. Banyaknya variasi konsumsi dari daging merah dan daging yang diproses di antara populasi NIH-AARP mengijinkan pengamatan dari area kanker khusus untuk dilakukan dengan kekuatan yang relatif kuat, maka dari itu penambahan yang besar bagi kekurangan literatur prospektif pada kanker yang langka ini.

Untuk menjelaskan penemuan dari penelitian konsumsi daging dan kanker, hal ini harus dicatat dimana setiap orang mengonsumsi makanan yang lebih banyak mengandung daging merah dan diproses khususnya juga mengkonsumsi sejumlah besar makanan seperti mentega, kentang, biji-bijian diolah, dan susu berlemak tinggi, semua komponen diet ala barat [60]. Namun konsumsi daging merah dan diproses mungkin tidak semata-mata bertanggung jawab bagi resiko kanker yang lebih tinggi. Tambahan lagi, konsumsi daging umumnya berhubungan dengan konsumsi kalori yang lebih tinggi [61,62] dan kegemukan [63], jadi kemungkinan menemukan sisa yang memalukan. Penelitian mengarahkan pada pemahaman bagaimana makanan dan interaksi nutrisi untuk menyebabkan atau mencegah sifat karsinogenesis mungkin menyediakan pemahaman yang lebih baik mengenai arah potensi etiologis dan mungkin menjelaskan beberapa perbedaan dari hasil yang diterbitkan.

Langkah Selanjutnya dari Penelitian

Pengetahuan lanjutan bisa diperoleh dari penelitian pengamatan perbedaan secara khusus dari subtipe kanker spesifik. Sebagai contoh, perbedaan histologis atau tempat khusus kanker, seperti kanker payudara yang reseptor estrogen negatif atau kanker lambung jantung, mungkin semakin kuat dihubungkan dengan resiko makanan atau faktor pencegahan. Hampir sama, variasi resiko tergantung pada genotip khusus pada daerah  polimorfik, umpamanya dalam gen yang terlibat pada metabolisme karsinogenik yang ditemukan pada daging, yang bisa menambah pemahaman kita mengenai peran konsumsi daging pada resiko kanker.

Tambahan untuk menyelidiki konsumsi jenis makanan atau kelompok (dengan kata lain, daging merah dan diproses), penelitian masa depan juga harus menyelidiki nutrisi tertentu di dalam daging (misalnya, zat besi) atau komponen karsinogenik (misalnya, heterosiklis amina, nitrosamines) yang merupakan hasil dari teknik memasak tertentu, terutama diantara penelitian kanker yang jarang dan kurang dilakukan. Faktor lainnya, seperti pemeliharaan dan pemberian makan ternak (obat perangsang perkembangbiakan yang digunakan dalam pemeliharaan ternak di AS dan dilarang dalam industri peternakan di Uni Eropa), juga mungkin menyebabkan resiko kanker [64,65]. Sedikit penelitian telah menyelidiki praktik ini dalam analisanya, yang mungkin menjelaskan beberapa hasil yang tidak konsisten diantara penelitian itu.

Kesimpulan

Sebagai catatan, konsumsi daging merah dan diproses terlihat terkait secara positif dengan resiko kanker usus besar dan dubur, tenggorokan, hati, paru-paru, dan pankreas dalam kajian kohort AS yang baru dan luas yang terdiri dari 500.000 pria dan wanita. Bagaimanapun, penelitian ini menyediakan sedikit dukungan mengenai hubungan dengan area kanker lainnya. Pedoman makanan terbaru merekomendasikan pemilihan daging yang sedikit lemak, rendah lemak, atau tanpa lemak [66], sekaligus mempromosikan konsumsi daging merah dan diproses dalam jumlah terbatas. Keseluruhan, faktor resiko terkuat bagi kanker di AS adalah merokok dan kegemukan. [67]. Bagaimanapun, memahami interaksi kompleks dari makanan dengan merokok dan kegemukan, dan bagaimana makanan dan nutrisi tertentu dimetabolisme, mungkin menyediakan kunci lebih lanjut menuju etiologi dan, lebih penting lagi, pada pencegahan kanker.


Referensi

  1. Delgado CL (2003) Rising consumption of meat and milk in developing countries has created a new food revolution. J Nutr 133: 3907S–3910S. Find this article online
  2. Doll R, Peto R (1981) The causes of cancer: quantitative estimates of avoidable risks of cancer in the United States today. J Natl Cancer Inst 66: 1191–1308. Find this article online
  3. Lijinsky W (1999) N-nitroso compounds in the diet. Mutat Res 443: 129–138. Find this article online
  4. Ohgaki H, Hasegawa H, Kato T, Suenaga M, Sato S, et al. (1985) Carcinogenicities in mice and rats of IQ, MeIQ, and MeIQx. Princess Takamatsu Symp 16: 97–105.
  5. Ito N, Hasegawa R, Sano M, Tamano S, Esumi H, et al. (1991) A new colon and mammary carcinogen in cooked food, 2-amino-1-methyl-6-phenylimidazo[4,5-b]pyridine (PhIP). Carcinogenesis 12: 1503–1506. Find this article online
  6. Ito N, Hasegawa R, Shirai T, Fukushima S, Hakoi K, et al. (1991) Enhancement of GST-P positive liver cell foci development by combined treatment of rats with five heterocyclic amines at low doses. Carcinogenesis 12: 767–772. Find this article online
  7. Ghoshal A, Preisegger KH, Takayama S, Thorgeirsson SS, Snyderwine EG (1994) Induction of mammary tumors in female Sprague-Dawley rats by the food-derived carcinogen 2-amino-1-methyl-6-phenylimidazo[4,5-b]pyridine and effect of dietary fat. Carcinogenesis 15: 2429–2433. Find this article online
  8. Weisburger JH, Rivenson A, Reinhardt J, Aliaga C, Braley J, et al. (1994) Genotoxicity and carcinogenicity in rats and mice of 2-amino-3,6-dihydro-3-methyl-7H-imidazolo[4,5-f]quinolin-7- one: an intestinal bacterial metabolite of 2-amino-3-methyl-3H-imidazo[4,5-f]quinoline. J Natl Cancer Inst 86: 25–30. Find this article online
  9. Norrish AE, Ferguson LR, Knize MG, Felton JS, Sharpe SJ, et al. (1999) Heterocyclic amine content of cooked meat and risk of prostate cancer. J Natl Cancer Inst 91: 2038–2044. Find this article online
  10. Gann PH, Hennekens CH, Sacks FM, Grodstein F, Giovannucci EL, et al. (1994) Prospective study of plasma fatty acids and risk of prostate cancer. J Natl Cancer Inst 86: 281–286. Find this article online
  11. Allen NE, Appleby PN, Davey GK, Key TJ (2000) Hormones and diet: low insulin-like growth factor-I but normal bioavailable androgens in vegan men. Br J Cancer 83: 95–97. Find this article online
  12. Habito RC, Montalto J, Leslie E, Ball MJ (2000) Effects of replacing meat with soyabean in the diet on sex hormone concentrations in healthy adult males. Br J Nutr 84: 557–563. Find this article online
  13. Ngo TH, Barnard RJ, Cohen P, Freedland S, Tran C, et al. (2003) Effect of isocaloric low-fat diet on human LAPC-4 prostate cancer xenografts in severe combined immunodeficient mice and the insulin-like growth factor axis. Clin Cancer Res 9: 2734–2743. Find this article online
  14. Weinberg ED (1996) The role of iron in cancer. Eur J Cancer Prev 5: 19–36. Find this article online
  15. McCord JM (1998) Iron, free radicals, and oxidative injury. Semin Hematol 35: 5–12. Find this article online
  16. Daxenberger A, Ibarreta D, Meyer HH (2001) Possible health impact of animal oestrogens in food. Hum Reprod Update 7: 340–355. Find this article online
  17. Rose DP, Boyar AP, Wynder EL (1986) International comparisons of mortality rates for cancer of the breast, ovary, prostate, and colon, and per capita food consumption. Cancer 58: 2363–2371. Find this article online
  18. Armstrong B, Doll R (1975) Environmental factors and cancer incidence and mortality in different countries, with special reference to dietary practices. Int J Cancer 15: 617–631. Find this article online
  19. World Cancer Research Fund, American Institute for Cancer Research Expert Panel (1997) Food, nutrition and the prevention of cancer: a global perspective Washington (D. C.): American Institute for Cancer Research.
  20. Scheppach W, Bingham S, Boutron-Ruault MC, Gerhardsson de Verdier M, et al. (1999) WHO consensus statement on the role of nutrition in colorectal cancer. Eur J Cancer Prev 8: 57–62. Find this article online
  21. United Kingdom Department of Health (1998) Nutritional aspects of the development of cancer Norwich: Her Majesty's Stationery Office.
  22. Larsson SC, Wolk A (2006) Meat consumption and risk of colorectal cancer: a meta-analysis of prospective studies. Int J Cancer 119: 2657–2664. Find this article online
  23. Norat T, Lukanova A, Ferrari P, Riboli E (2002) Meat consumption and colorectal cancer risk: dose-response meta-analysis of epidemiological studies. Int J Cancer 98: 241–256. Find this article online
  24. Sandhu MS, White IR, McPherson K (2001) Systematic review of the prospective cohort studies on meat consumption and colorectal cancer risk: a meta-analytical approach. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev 10: 439–446. Find this article online
  25. Larsson SC, Orsini N, Wolk A (2006) Processed meat consumption and stomach cancer risk: a meta-analysis. J Natl Cancer Inst 98: 1078–1087. Find this article online
  26. Steinmaus CM, Nunez S, Smith AH (2000) Diet and bladder cancer: a meta-analysis of six dietary variables. Am J Epidemiol 151: 693–702. Find this article online
  27. Michaud DS, Holick CN, Giovannucci E, Stampfer MJ (2006) Meat intake and bladder cancer risk in 2 prospective cohort studies. Am J Clin Nutr 84: 1177–1183. Find this article online
  28. Missmer SA, Smith-Warner SA, Spiegelman D, Yaun SS, Adami HO, et al. (2002) Meat and dairy food consumption and breast cancer: a pooled analysis of cohort studies. Int J Epidemiol 31: 78–85. Find this article online
  29. Cho E, Chen WY, Hunter DJ, Stampfer MJ, Colditz GA, et al. (2006) Red meat intake and risk of breast cancer among premenopausal women. Arch Intern Med 166: 2253–2259. Find this article online
  30. Bandera EV, Kushi LH, Moore DF, Gifkins DM, McCullough ML (2007) Consumption of animal foods and endometrial cancer risk: a systematic literature review and meta-analysis. Cancer Causes Control 18: 967–988. Find this article online
  31. Huncharek M, Kupelnick B, Wheeler L (2003) Dietary cured meat and the risk of adult glioma: a meta-analysis of nine observational studies. J Environ Pathol Toxicol Oncol 22: 129–137. Find this article online
  32. Larsson SC, Hakanson N, Permert J, Wolk A (2006) Meat, fish, poultry and egg consumption in relation to risk of pancreatic cancer: a prospective study. Int J Cancer 118: 2866–2870. Find this article online
  33. Lin Y, Kikuchi S, Tamakoshi A, Yagyu K, Obata Y, et al. (2006) Dietary habits and pancreatic cancer risk in a cohort of middle-aged and elderly Japanese. Nutr Cancer 56: 40–49. Find this article online
  34. Nothlings U, Wilkens LR, Murphy SP, Hankin JH, Henderson BE, et al. (2005) Meat and fat intake as risk factors for pancreatic cancer: the multiethnic cohort study. J Natl Cancer Inst 97: 1458–1465. Find this article online
  35. Dagnelie PC, Schuurman AG, Goldbohm RA, Van den Brandt PA (2004) Diet, anthropometric measures and prostate cancer risk: a review of prospective cohort and intervention studies. BJU Int 93: 1139–1150. Find this article online
  36. Faramawi MF, Johnson E, Fry MW, Sall M, Zhou Y (2007) Consumption of different types of meat and the risk of renal cancer: meta-analysis of case-control studies. Cancer Causes Control 18: 125–133. Find this article online
  37. Alavanja MC, Field RW, Sinha R, Brus CP, Shavers VL, et al. (2001) Lung cancer risk and red meat consumption among Iowa women. Lung Cancer 34: 37–46. Find this article online
  38. Sinha R, Kulldorff M, Curtin J, Brown CC, Alavanja MC, et al. (1998) Fried, well-done red meat and risk of lung cancer in women (United States). Cancer Causes Control 9: 621–630. Find this article online
  39. Gonzalez CA, Jakszyn P, Pera G, Agudo A, Bingham S, et al. (2006) Meat intake and risk of stomach and esophageal adenocarcinoma within the European Prospective Investigation Into Cancer and Nutrition (EPIC). J Natl Cancer Inst 98: 345–354. Find this article online
  40. Levi F, Pasche C, Lucchini F, Bosetti C, La Vecchia C (2004) Processed meat and the risk of selected digestive tract and laryngeal neoplasms in Switzerland. Ann Oncol 15: 346–349. Find this article online
  41. Tavani A, La Vecchia C, Gallus S, Lagiou P, Trichopoulos D, et al. (2000) Red meat intake and cancer risk: a study in Italy. Int J Cancer 86: 425–428. Find this article online
  42. Kushi LH, Mink PJ, Folsom AR, Anderson KE, Zheng W, et al. (1999) Prospective study of diet and ovarian cancer. American Journal of Epidemiology 149: 21–31. Find this article online
  43. Bertone ER, Rosner BA, Hunter DJ, Stampfer MJ, Speizer FE, et al. (2002) Dietary fat intake and ovarian cancer in a cohort of US women. Am J Epidemiol 156: 22–31. Find this article online
  44. Larsson SC, Wolk A (2005) No association of meat, fish, and egg consumption with ovarian cancer risk. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev 14: 1024–1025. Find this article online
  45. Ziegler RG, Brinton LA, Hamman RF, Lehman HF, Levine RS, et al. (1990) Diet and the risk of invasive cervical cancer among white women in the United States. Am J Epidemiol 132: 432–445. Find this article online
  46. Cross AJ, Leitzmann MF, Gail MH, Hollenbeck AR, Schatzkin A, et al. (2007) A prospective study of red and processed meat intake in relation to cancer risk. PLoS Med 4: e325. doi:10.1371/journal.pmed.0040325. Find this article online
  47. Deneo-Pellegrini H, De Stefani E, Ronco A, Mendilaharsu M, Carzoglio JC (1996) Meat consumption and risk of lung cancer; a case-control study from Uruguay. Lung Cancer 14: 195–205. Find this article online
  48. Castellsague X, Munoz N, De Stefani E, Victora CG, Castelletto R, et al. (2000) Influence of mate drinking, hot beverages and diet on esophageal cancer risk in South America. Int J Cancer 88: 658–664. Find this article online
  49. Ward MH, Sinha R, Heineman EF, Rothman N, Markin R, et al. (1997) Risk of adenocarcinoma of the stomach and esophagus with meat cooking method and doneness preference. Int J Cancer 71: 14–19. Find this article online
  50. Takezaki T, Gao CM, Wu JZ, Ding JH, Liu YT, et al. (2001) Dietary protective and risk factors for esophageal and stomach cancers in a low-epidemic area for stomach cancer in Jiangsu Province, China: comparison with those in a high-epidemic area. Jpn J Cancer Res 92: 1157–1165. Find this article online
  51. Bahmanyar S, Ye W (2006) Dietary patterns and risk of squamous-cell carcinoma and adenocarcinoma of the esophagus and adenocarcinoma of the gastric cardia: a population-based case-control study in Sweden. Nutr Cancer 54: 171–178. Find this article online
  52. Anderson KE, Sinha R, Kulldorff M, Gross M, Lang NP, et al. (2002) Meat intake and cooking techniques: associations with pancreatic cancer. Mutat Res 506–507 225–231.
  53. De Stefani E, Munoz N, Esteve J, Vasallo A, Victora CG, et al. (1990) Mate drinking, alcohol, tobacco, diet, and esophageal cancer in Uruguay. Cancer Res 50: 426–431. Find this article online
  54. Castelletto R, Castellsague X, Munoz N, Iscovich J, Chopita N, et al. (1994) Alcohol, tobacco, diet, mate drinking, and esophageal cancer in Argentina. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev 3: 557–564. Find this article online
  55. Launoy G, Milan C, Day NE, Pienkowski MP, Gignoux M, et al. (1998) Diet and squamous-cell cancer of the oesophagus: a French multicentre case-control study. Int J Cancer 76: 7–12. Find this article online
  56. Levi F, Pasche C, Lucchini F, Bosetti C, Franceschi S, et al. (2000) Food groups and oesophageal cancer risk in Vaud, Switzerland. Eur J Cancer Prev 9: 257–263. Find this article online
  57. Lyon JL, Slattery ML, Mahoney AW, Robison LM (1993) Dietary intake as a risk factor for cancer of the exocrine pancreas. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev 2: 513–518. Find this article online
  58. Michaud DS, Giovannucci E, Willett WC, Colditz GA, Fuchs CS (2003) Dietary meat, dairy products, fat, and cholesterol and pancreatic cancer risk in a prospective study. Am J Epidemiol 157: 1115–1125. Find this article online
  59. Thompson FE, Midthune D, Subar AF, Kipnis V, Kahle LL, et al. (2007) Development and evaluation of a short instrument to estimate usual dietary intake of percentage energy from fat. J Am Diet Assoc 107: 760–767. Find this article online
  60. Hu FB (2002) Dietary pattern analysis: a new direction in nutritional epidemiology. Curr Opin Lipidol 13: 3–9. Find this article online
  61. Ledikwe JH, Blanck HM, Kettel Khan L, Serdula MK, Seymour JD, et al. (2006) Dietary energy density is associated with energy intake and weight status in US adults. Am J Clin Nutr 83: 1362–1368. Find this article online
  62. Ledikwe JH, Blanck HM, Khan LK, Serdula MK, Seymour JD, et al. (2006) Low-energy-density diets are associated with high diet quality in adults in the United States. J Am Diet Assoc 106: 1172–1180. Find this article online
  63. Newby PK, Muller D, Hallfrisch J, Qiao N, Andres R, et al. (2003) Dietary patterns and changes in body mass index and waist circumference in adults. Am J Clin Nutr 77: 1417–1425. Find this article online
  64. Matthews KH, Bernstein JJCB, (2003) International trade of meat/poultry products and food safety issues. In Buzby JC, editor International trade and food safety: economic theory and case studies Available: http://www.ers.usda.gov/Publications/AER828/. Accessed 12 November 2007.
  65. European Commission Health and Consumer Protection Directorate General (2002) Opinion of the Scientific Committee on Veterinary Measures Relating to Public Health on Review of previous SCVPH opinions of 30 April 1999 and 3 May 2000 on the potential risks to human health from hormones residues in bovine meat and meat products. Available: http://ec.europa.eu/food/fs/sc/scv/outcome_en.html. Accessed 12 November 2007.
  66. United States Department of Health and Human Services and the Department of Agriculture (2005) Dietary Guidelines for Americans, 2005. Available: http://www.health.gov/dietaryguidelines/dga2005/document/default.htm. Accessed 12 November 2007.
  67. American Cancer Society (2005) Cancer Facts and Figures 2005. Available: http://www.cancer.org/docroot/STT/content/STT_1x_Cancer_Facts__Figures_2005.asp. Accessed 12 November 2007.
trackback : http://suprememastertv.com/bbs/tb.php/veg_data_ina/80
recommend    1